Cak Imin Membangun Demokrasi Tanpa Sekat: Reses Cangkrukan dan Merawat Demokrasi Lewat Generasi Milenial - Gen Z
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.
Kegiatan ini direncanakan digelar pada Selasa malam, 10 Februari 2026, pukul 19.00 WIB, bertempat di Warung Ku, Jalan Sidosermo, Kecamatan Wonocolo, dengan dukungan unsur Muspika Kecamatan Wonocolo.
Model reses semacam ini menjadi simbol perubahan pendekatan politik representatif dari elitis menuju partisipatif, dari podium ke meja warung. Cangkrukan politik bukan sekadar forum dialog, melainkan ruang kesadaran kolektif, tempat gagasan, keresahan, dan harapan generasi muda dipertemukan langsung dengan wakil rakyat tanpa sekat birokrasi.
Generasi Milenial dan Generasi Z hari ini dipandang sebagai agent of change, garda terdepan perubahan politik bangsa menuju kehidupan demokrasi yang relevan dengan tantangan zaman. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia tidak akan bermakna tanpa kualitas partisipasi politik generasi mudanya. Di titik inilah pendidikan politik menjadi fondasi utama untuk membangun kesadaran kritis, mencegah apatisme, serta membentuk karakter warga negara yang aktif dan bertanggung jawab.




Berbagai kajian akademik melalui metode tinjauan pustaka (literature review) menunjukkan adanya kecenderungan negatif Generasi Z dalam memandang politik. Tahapan penelitian yang dilakukan mulai dari membaca, menganalisis, mengevaluasi, hingga mensintesis literatur mengungkap fakta bahwa mayoritas Gen Z masih memaknai politik sebagai sesuatu yang kotor, kejam, sarat konflik, dan identik dengan korupsi. Persepsi ini tidak lahir di ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh hegemoni eksternal, terutama media sosial yang kerap menghadirkan politik dalam wajah paling gelapnya.
Sensitivitas Gen Z terhadap isu politik muncul bukan karena ketidakpedulian, melainkan karena banjir informasi tanpa literasi yang memadai. Tanpa pendidikan politik yang sistematis, generasi muda berisiko terjebak dalam dua ekstrem: apatis total atau pragmatis kapitalistik yang memandang politik semata sebagai alat kepentingan.
Oleh karena itu, pendidikan politik bagi Generasi Z bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban kolektif. Mereka adalah lumbung bonus demografi Indonesia pasca-2024, yang menentukan kualitas demokrasi di masa depan. Pendidikan politik harus diarahkan untuk membentuk partisipasi politik yang cerdas, aktif, kritis, dan beretika, bukan sekadar partisipasi prosedural atau emosional.
Salah satu langkah paling mendasar dalam pendidikan politik adalah keteladanan nyata dari para pejabat publik dan pemegang kebijakan. Politik tidak cukup diajarkan, tetapi harus diperagakan. Perilaku, integritas, dan keberpihakan wakil rakyat menjadi “buku teks hidup” bagi generasi muda. Dalam konteks ini, kehadiran anggota dewan di ruang-ruang publik informal seperti cangkrukan menjadi pesan simbolik bahwa politik hadir untuk mendengar, bukan sekadar berbicara.




Langkah berikutnya adalah sosialisasi pendidikan politik yang terstruktur dan berkelanjutan, yang dapat dilakukan oleh lembaga seperti KPU, Bawaslu, serta instansi terkait, dengan pendekatan yang ramah generasi muda. Pendidikan politik harus dikemas secara kreatif, menghibur, dan adaptif terhadap budaya digital, sekaligus menghindari eksploitasi isu SARA dan polarisasi identitas yang justru merusak kohesi sosial.
Fakta di lapangan menunjukkan, sebagian Kaum Milenial telah menjadi penggiat Pemilu, relawan demokrasi, hingga pengawas partisipatif. Mereka berusaha merefleksikan pengalaman politiknya dengan mengambil peran aktif dalam mengurangi risiko dan potensi kecurangan. Fenomena ini menjadi bukti bahwa ketika diberi ruang, kepercayaan, dan literasi yang memadai, generasi muda mampu menjadi penjaga demokrasi yang rasional dan bermartabat.
Kemampuan literasi politik yang dimiliki setiap warga negara, khususnya Milenial dan Gen Z, akan menjadi fondasi terbentuknya kultur politik yang sehat, diskursus publik yang rasional, serta sistem politik yang berintegritas. Demokrasi tidak hanya hidup dari pemilu, tetapi dari kesadaran warganya untuk terus terlibat, mengawasi, dan mengoreksi kekuasaan.
Reses cangkrukan Cak Imin di Wonocolo menjadi contoh bahwa demokrasi bisa dirawat dari ruang paling sederhana dari warung, dari dialog, dari kesediaan mendengar. Di sanalah politik menemukan kembali rohnya sebagai alat pengabdian, bukan sekadar alat kekuasaan. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati