Cuaca
Memuat cuaca...

MAKI Jatim Bagi 1.000 Tajil Hari Ke - 16 di Jalan Raya Leces Probolinggo

MAKI Jatim Bagi 1.000 Tajil Hari Ke - 16 di Jalan Raya Leces Probolinggo
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

Probolinggo, 6 Maret 2026 — Media Indonesia Times | Setiap kali Ramadhan tiba, semesta seakan memanggil manusia untuk kembali mengenali dirinya. Bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah, melainkan waktu ketika hati-hati dilunakkan, ego dipatahkan, dan jiwa diajak menapaki jalan pulang menuju Yang Maha Memiliki. Dalam keheningan ibadah dan kesederhanaan berbagi, manusia belajar bahwa hakikat hidup bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada seberapa dalam ia mengenal Tuhannya.

Ramadhan adalah madrasah ruhani yang mengajarkan manusia melihat dunia dengan mata batin. Lapar dan dahaga bukan sekadar ujian fisik, tetapi jalan sunyi yang menuntun jiwa menuju kesadaran makrifat bahwa segala sesuatu di alam ini hanyalah titipan, dan manusia hanyalah perantara bagi mengalirnya rahmat Ilahi.

Di tengah denyut kehidupan di Jalan Raya Leces, Kabupaten Probolinggo, suasana sore menjelang berbuka pada hari ke-16 Ramadhan terasa berbeda. Kendaraan tetap melaju, masyarakat tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, namun di balik kesibukan itu tumbuh getar kemanusiaan yang hangat. Sebuah gerakan sederhana namun sarat makna berlangsung di sana: pembagian 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti datangnya adzan maghrib.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur sebagai bagian dari gerakan sosial Ramadhan. Sebanyak 250 paket nasi rawon lengkap dengan daging dan tempe dibagikan kepada masyarakat, disertai 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon berisi blewah, serta 250 paket berisi lima jenis kue basah.

Bagi sebagian orang, ta’jil mungkin hanya hidangan pembuka puasa. Namun dalam pandangan yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan adalah simbol kasih yang menjelma menjadi amal. Setiap butir nasi yang berpindah tangan mengingatkan bahwa rezeki sejatinya berasal dari Allah dan mengalir melalui siapa saja yang dikehendaki-Nya. Setiap teguk minuman yang menghapus dahaga adalah pesan lembut bahwa nikmat sekecil apa pun adalah rahmat yang tak pernah berhenti diturunkan.

Ramadhan mengajarkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan keserakahan, menundukkan ego, serta melatih jiwa agar peka terhadap penderitaan sesama. Dari rasa lapar itulah manusia belajar empati. Dari rasa haus itulah hati menjadi lebih lembut. Dan dari kesadaran itu tumbuh makrifat: bahwa seluruh manusia sesungguhnya adalah satu keluarga besar dalam naungan kasih Tuhan.

Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Namun dalam makna yang lebih dalam, syukur bukan hanya ucapan yang berhenti di lisan, melainkan gerak nyata dalam tindakan. Syukur adalah ketika nikmat yang diterima diubah menjadi manfaat bagi orang lain.

“Ketika tangan memberi dengan keikhlasan, sesungguhnya hati sedang menerima cahaya yang jauh lebih besar,” ungkapnya.

Sebagai lembaga yang dikenal aktif dalam mengawal integritas dan melawan korupsi, MAKI memaknai Ramadhan sebagai momentum refleksi moral. Korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga krisis kesadaran spiritual. Ia lahir ketika manusia lupa bahwa setiap perbuatan berada dalam pengawasan Tuhan.

Dalam perspektif makrifat, kejujuran bukanlah sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa. Amanah bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan kehormatan spiritual. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah Maha Melihat, maka integritas tidak lagi terasa berat, melainkan menjadi jalan menjaga kemuliaan diri.

Menjelang adzan maghrib, langit di atas Jalan Raya Leces memerah dalam semburat jingga yang lembut. Angin sore berhembus perlahan, membawa aroma tanah dan harapan. Waktu seakan melambat. Orang-orang yang menerima ta’jil tersenyum sederhana, sementara para relawan berdiri dengan wajah penuh syukur.

Ta’jil yang dibagikan mungkin sederhana di mata dunia. Namun di langit makna, ia menjadi saksi bahwa cinta tidak memerlukan kemewahan untuk menjadi berarti. Amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa menjelma menjadi cahaya yang besar dalam timbangan Ilahi.

Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang. Pulang dari kesibukan menuju kesadaran. Pulang dari keserakahan menuju keikhlasan. Pulang dari lupa menuju ingat bahwa hidup ini hanyalah persinggahan menuju keabadian.

Di antara hiruk pikuk jalan raya dan langkah manusia yang terus bergerak, kegiatan berbagi di Leces Probolinggo menyampaikan pesan yang sederhana namun dalam: kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang ia kumpulkan, tetapi dari apa yang ia ikhlaskan.

Di situlah kemanusiaan bertemu dengan makrifat dalam tangan yang memberi, dalam hati yang bersyukur, dalam iman yang tidak hanya diyakini, tetapi dihidupi.

Dan Ramadhan kembali mengingatkan: jalan menuju Tuhan sering kali dimulai dari satu langkah kecil berbagi kepada sesama. (Bagas)

Id
Penulis Idham Holid
Id
Editor Idham Holid

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN