Cuaca
Memuat cuaca...
Polri

Pises Handoko 93 Bongkar Sosok Agus Flores: Anak Desa Tompe yang Dipercaya Jenderal, Tolak Kemewahan dan Pilih Keliling Indonesia!

Pises Handoko 93 Bongkar Sosok Agus Flores: Anak Desa Tompe yang Dipercaya Jenderal, Tolak Kemewahan dan Pilih Keliling Indonesia!
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | JAKARTA — Sosok Ketua Umum Fast Respon Counter Polri, Agus Flores, kembali menjadi sorotan. Di balik kiprahnya yang dikenal dekat dengan sejumlah purnawirawan jenderal, tersimpan kisah perjalanan hidup yang disebut tidak selalu berjalan mulus. Berawal dari desa, melewati berbagai pengalaman hidup, hingga dipercaya mengemban tanggung jawab organisasi, Agus Flores dinilai memiliki karakter dan prinsip hidup tersendiri.

 

Pujian tersebut disampaikan Pises Handoko 93, yang disebut sebagai salah satu penasihat Fast Respon Counter Polri. Dalam pandangannya, Agus Flores merupakan figur yang memiliki kecintaan terhadap institusi Polri sekaligus sosok yang berani mengambil peran dalam membangun komunikasi dan menjaga hubungan dengan berbagai kalangan.

 

Pises Handoko 93: Jangan Remehkan Anak Desa Tompe!

 

Dengan gaya bicara yang santai dan diselingi candaan, Pises Handoko 93 menceritakan perjalanan hidupnya sendiri. Ia mengaku pernah menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol), tetapi tidak menyelesaikannya. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan masa lalunya yang kini ia ceritakan dengan nada reflektif.

 

Kini, Handoko mengaku lebih banyak menjalankan peran sebagai penasihat yang memberikan masukan kepada Agus Flores dalam menjalankan organisasi Fast Respon Counter Polri.

 

Menurut Handoko, Agus Flores bukanlah sosok yang patut dipandang sebelah mata hanya karena berasal dari desa.

 

Ia menggambarkan Agus sebagai figur yang memiliki kemampuan membangun jaringan, menjalin kedekatan dengan berbagai tokoh, serta menggerakkan organisasi yang membawa misi mendukung Polri.

 

Bahkan, Handoko melontarkan ungkapan khas untuk menggambarkan pengaruh Agus Flores. Menurutnya, sosok yang berangkat dari Desa Tompe itu memiliki daya gerak yang besar dalam lingkup organisasi dan relasi kebangsaannya.

 

Jejak Sang Ayah, Kisah yang Disebut Memiliki Kemiripan

 

Handoko juga menyinggung kisah ayah Agus Flores yang disebut pernah menempuh pendidikan Akpol pada 1968, tetapi tidak menyelesaikannya dan kemudian memilih jalur sebagai arsitek gambar.

 

Kisah tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan perjalanan Agus Flores yang juga disebut tumbuh dari latar belakang keluarga dengan pengalaman hidup yang berliku.

 

Dalam penuturan Handoko, keluarga Agus Flores memiliki cerita panjang yang menghubungkan latar belakang bangsawan di Besuki, Jawa Timur, dengan kehidupan di Sulawesi Tengah.

 

Kisah itu menjadi bagian dari narasi perjalanan keluarga yang, menurut Handoko, memperlihatkan bahwa latar belakang dan garis keturunan bukanlah satu-satunya penentu arah kehidupan seseorang.

 

Namun, berbagai keterangan mengenai riwayat keluarga, pendidikan, dan garis keturunan tersebut tetap memerlukan verifikasi apabila hendak dijadikan catatan sejarah yang definitif.

 

Dekat dengan Purnawirawan Jenderal, Tetap Memilih Hidup Sederhana

 

Salah satu hal yang disoroti Handoko adalah kedekatan Agus Flores dengan sejumlah purnawirawan jenderal. Menurutnya, hubungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Agus dalam membangun komunikasi dengan berbagai kalangan di lingkungan kepolisian.

 

Handoko juga menggambarkan Agus sebagai pribadi yang tidak terlalu mengejar kemewahan dan lebih memilih menjalani kehidupan secara sederhana.

 

Ia bahkan menyebut Agus pernah mendapatkan tawaran untuk menduduki jabatan wakil menteri pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo sebanyak dua kali. Akan tetapi, klaim mengenai tawaran jabatan tersebut belum disertai keterangan atau dokumen pendukung yang dapat mengonfirmasinya secara independen.

 

Bagi Handoko, hal yang lebih menonjol dari sosok Agus Flores bukanlah soal jabatan atau kemewahan, melainkan keinginannya untuk terus bergerak, menjelajahi berbagai daerah di Indonesia, dan membangun hubungan dengan masyarakat.

 

Bukan Sekadar Jabatan, Ada Impian Menginjakkan Kaki di Tanah Suci

 

Di balik aktivitas organisasi dan relasi yang luas, Handoko menggambarkan Agus Flores sebagai sosok yang memiliki keinginan sederhana: berkeliling Indonesia dan suatu saat menikmati keindahan Kota Madinah serta Makkah di Tanah Suci.

 

Gambaran tersebut menjadi sisi humanis dari cerita tentang seorang tokoh organisasi yang selama ini dikenal melalui aktivitas dan kedekatannya dengan berbagai kalangan.

 

Bagi Handoko, perjalanan hidup Agus Flores membuktikan bahwa seseorang tidak harus lahir dari pusat kekuasaan untuk membangun pengaruh. Ketekunan, hubungan antarmanusia, dan pilihan hidup dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan seseorang.

 

Pada akhirnya, kisah Agus Flores sebagaimana dituturkan Pises Handoko 93 bukan semata-mata tentang kedekatan dengan para jenderal ataupun posisi di sebuah organisasi. Lebih dari itu, kisah tersebut mengangkat perjalanan seorang anak desa yang berusaha membangun peran, mempertahankan prinsip hidup, dan mengejar cita-cita dengan caranya sendiri.

 

Dari Tompe menuju panggung nasional, pesan yang ingin disampaikan Handoko jelas: jangan mengukur seseorang hanya dari tempat asalnya, tetapi lihatlah perjalanan, kontribusi, dan tanggung jawab yang dijalankannya.(Maha) 

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN

">