MAKI Jatim Bagi 1000 Tajil di Hari Ke - 21 Ramadan: Tabur Sedekah Menjadi Jalan Turunnya Rahmat Tuhan
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.
Di bulan ini, manusia diajak kembali melihat dirinya dengan jujur. Menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana manusia mampu memberi makna bagi sesamanya.
Puasa mengajarkan kesederhanaan yang sering dilupakan. Ketika manusia menahan lapar dan dahaga, ia belajar memahami perasaan orang lain yang mungkin setiap hari hidup dalam kekurangan. Dalam keadaan itulah empati tumbuh, dan hati menjadi lebih peka terhadap penderitaan sesama.
Ramadan perlahan mengingatkan manusia bahwa hidup tidak pernah berdiri sendiri. Setiap orang terhubung oleh benang kemanusiaan yang sama.




Apa yang kita miliki hari ini pada hakikatnya hanyalah titipan. Rezeki, kesempatan, bahkan kesehatan adalah amanah yang suatu saat akan dipertanyakan bagaimana manusia menggunakannya.
Sore itu, kehidupan berjalan seperti biasa di Jalan Ahmad Yani sebelah Cito Mall Bundaran Waru. Kendaraan melintas tanpa henti, para pengendara bergegas pulang, dan aktivitas kota tetap bergerak dalam ritme yang sibuk.
Namun di tengah arus lalu lintas itu, hadir sebuah pemandangan sederhana yang memancarkan makna yang lebih besar.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menggelar kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang sedang menanti waktu berbuka puasa.




Paket-paket tersebut dibagikan kepada para pengendara, pekerja jalanan, serta masyarakat yang melintas di kawasan tersebut. Isinya 250 pack bihun goreng bakso dan irisan telur dadar, 250 pack kurma, 250 mangkuk mika kolak kacang ijo dan kolang kaling, 250 pack paket gorengan yaitu lumpia dan tahu bakso.(Mbak Pipin Waru) sederhana namun penuh makna.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah makanan untuk berbuka. Tetapi bagi mereka yang memahami nilai kemanusiaan, setiap paket yang dibagikan adalah bentuk kepedulian yang nyata.
Ia bukan sekadar makanan, tetapi simbol bahwa di tengah kesibukan dunia, masih ada tangan-tangan yang bersedia berbagi.
Dalam kehidupan sosial, tindakan memberi sering kali terlihat sederhana. Namun sesungguhnya di situlah nilai kemanusiaan menemukan maknanya.




Memberi bukan hanya tentang jumlah yang diberikan. Memberi adalah tentang kesediaan hati untuk peduli terhadap orang lain.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan. Syukur harus diwujudkan melalui tindakan yang membawa manfaat bagi orang lain.
“Ketika kita memiliki kemampuan untuk berbagi, di situlah kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur itu hadir. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial,” ujarnya.




Bagi MAKI, kegiatan ini juga memiliki makna yang lebih luas. Sebagai organisasi yang bergerak dalam semangat melawan korupsi, mereka meyakini bahwa perubahan sosial tidak hanya bergantung pada hukum, tetapi juga pada kesadaran moral masyarakat.
Kejujuran, integritas, dan kepedulian adalah nilai-nilai yang harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
Menjelang waktu berbuka puasa, langit di atas Surabaya perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menyelimuti kota dengan suasana yang tenang.
Para relawan terus membagikan ta’jil kepada pengendara yang melintas. Senyum-senyum kecil terlihat di wajah para penerima.




Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada perayaan besar. Namun ada kebahagiaan yang sederhana.
Sebab sering kali, kebahagiaan yang paling tulus lahir dari perhatian kecil yang diberikan dengan hati yang ikhlas.
Ta’jil yang dibagikan di persimpangan jalan itu menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat.
Bahwa di balik kesibukan dan dinamika kehidupan kota, masih ada ruang bagi kepedulian dan kebersamaan.




Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah pribadi. Ia juga tentang bagaimana manusia memperkuat hubungan dengan sesamanya.
Karena dalam kehidupan ini, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak di Jalan Ahmad Yani sore itu, sebuah pelajaran sederhana kembali terasa nyata:
bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki kekuatan untuk menghadirkan harapan.
Sebab ketika manusia saling peduli, di situlah nilai kemanusiaan menemukan makna yang paling sejati. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati