Cuaca
Memuat cuaca...
Peristiwa

Darah Ulama Memanggil! Agus Flores Pulang ke Besuki, Rajut Silaturahmi di Pesantren Leluhur Bersama Nyai Hajah Khoiria dan Wakapolres Situbondo

Darah Ulama Memanggil! Agus Flores Pulang ke Besuki, Rajut Silaturahmi di Pesantren Leluhur Bersama Nyai Hajah Khoiria dan Wakapolres Situbondo
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | BESUKI, SITUBONDO – Sejauh apa pun kaki melangkah, sejauh apa pun perjalanan kehidupan membawa seseorang, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: asal-usul, keluarga, dan doa para leluhur.

 

Pesan itulah yang terasa dalam silaturahmi Ketua Umum Fast Respon, Agus Flores, di Besuki, Situbondo. Di tengah kesibukan dan aktivitasnya di berbagai daerah, ia menyempatkan diri kembali menyambung tali persaudaraan dengan keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Ulum, pesantren tua yang memiliki ikatan sejarah dengan keluarganya.

 

Silaturahmi tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan religius. Hadir Nyai Hajah Khoiria, mantan Wakil Bupati Situbondo sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, bersama para santri. Wakapolres Situbondo juga turut hadir dalam momen kebersamaan tersebut.

 

Bagi Agus Flores, pertemuan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ada kerinduan kepada keluarga, penghormatan kepada para sesepuh, serta kesadaran bahwa silaturahmi merupakan bagian penting dari ajaran Islam yang harus terus dijaga.

 

Kembali ke Akar Leluhur, Mengingat Nasihat Para Ulama

 

Agus Flores menyebut dirinya memiliki ikatan darah dengan Besuki dan hubungan keluarga dengan lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, yang didirikan oleh almarhum KH Abdul Rozak Soleh, tokoh ulama yang dihormati dalam sejarah pesantren tersebut.

 

Baginya, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama. Pesantren juga menjadi ruang untuk merawat akhlak, memperkuat persaudaraan, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi penerus.

 

Di tempat yang memiliki ikatan sejarah dengan keluarganya itu, silaturahmi menjadi pengingat bahwa kedudukan, kesibukan, dan perjalanan hidup tidak seharusnya menjauhkan seseorang dari keluarga maupun akar spiritualnya.

 

Sebab, setinggi apa pun seseorang melangkah, kerendahan hati untuk menghormati orang tua, ulama, dan para pendahulu tetap menjadi nilai yang tidak boleh ditinggalkan.

 

Doa untuk Suami, Keluarga, dan Perjuangan Kehidupan

 

Di tengah momen penuh makna tersebut, terselip doa yang menyentuh hati tentang perjuangan seorang suami dalam menafkahi dan membahagiakan keluarga.

 

“Allahumma yassir wala tu'assir, Rabbi tammim bil khair.”

 

Ya Allah, mudahkanlah dan jangan Engkau persulit. Ya Tuhanku, sempurnakanlah segala urusan dengan kebaikan.

 

Doa itu menjadi ungkapan harapan agar setiap langkah perjuangan senantiasa mendapat kemudahan, kesehatan, perlindungan, dan keberkahan rezeki dari Allah SWT.

 

Dalam kehidupan, setiap manusia memiliki perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Ada tanggung jawab yang dipikul, keluarga yang harus dijaga, serta harapan yang terus diperjuangkan dalam diam.

 

Karena itu, doa dan dukungan keluarga menjadi kekuatan yang sangat berarti. Bukan semata-mata tentang keberhasilan duniawi, melainkan juga tentang bagaimana setiap ikhtiar dijalani dengan niat baik, kejujuran, dan tanggung jawab.

 

Silaturahmi Bukan Sekadar Tradisi, Melainkan Jalan Merawat Persaudaraan

 

Agus Flores menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran tante tercintanya, Nyai Hajah Khoiria, beserta para santri dan seluruh pihak yang hadir.

 

Ia juga menyampaikan rencana untuk kembali berkunjung ke Pondok Pesantren Miftahul Ulum selama masih berada di Besuki.

 

Baginya, kesempatan bertemu keluarga besar tidak boleh disia-siakan, terlebih ketika kesibukan membuat anggota keluarga kerap berada di daerah yang berbeda.

 

“Kapan lagi kalau bukan sekarang melakukan silaturahmi,” demikian pesan yang disampaikannya.

 

Kalimat sederhana itu mengandung makna mendalam: jangan menunggu kehilangan untuk menyadari arti keluarga, jangan menunggu jauh untuk merindukan kampung halaman, dan jangan menunggu kesempatan berlalu untuk berbuat kebaikan.

 

Kehadiran Wakapolres Situbondo dalam kegiatan tersebut turut menjadi bagian dari jalinan silaturahmi yang mempertemukan keluarga, lingkungan pesantren, dan unsur kepolisian dalam suasana kebersamaan.

 

Pulang dengan Kerendahan Hati, Melangkah dengan Doa

 

Pada akhirnya, silaturahmi Agus Flores di Besuki bukan semata-mata tentang seseorang yang kembali ke tanah leluhurnya. Lebih dari itu, ada pesan tentang pentingnya menjaga hubungan keluarga, menghormati ulama, dan merawat nilai-nilai agama dalam perjalanan kehidupan.

 

Warisan terbesar para pendahulu bukan hanya nama besar atau sejarah yang dikenang, melainkan juga nilai kebaikan yang terus hidup dalam perilaku generasi berikutnya.

 

Semoga silaturahmi ini membawa keberkahan, mempererat persaudaraan, dan menjadi jalan bagi tumbuhnya kebaikan bagi keluarga besar, pesantren, serta masyarakat.

 

Karena sejatinya, manusia boleh pergi sejauh mungkin untuk mengejar cita-cita, tetapi hati yang berpegang pada iman tidak akan melupakan keluarga, asal-usul, dan doa kepada Allah SWT.

 

Allahumma barik lana fi ahli-na, wa rizqina, wa umurina. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada keluarga, rezeki, dan umur kami. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (Tim) 

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN

">