Cuaca
Memuat cuaca...
Peristiwa

Ki Suryo Alam dan Misi Menyebarkan Nilai Kasampurnan Budi Luhur Melalui Jalur Budaya

Ki Suryo Alam dan Misi Menyebarkan Nilai Kasampurnan Budi Luhur Melalui Jalur Budaya
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | MOJOKERTO — Di tengah derasnya arus modernisasi dan dinamisnya perkembangan zaman, upaya melestarikan serta mentransformasikan kearifan lokal Nusantara terus bergema. Salah satu langkah nyata hadir melalui Ajaran Kawruh Jawa Kasampurnan Budi Luhur, sebuah ajaran spiritual Jawa kuno atau tulen yang dikembangkan oleh Ki Suryo Alam. Keberadaan ajaran ini semakin memperkaya khazanah kebudayaan dan spiritualitas bangsa setelah secara resmi diakui oleh negara sebagai salah satu aliran Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

Melalui wadah Padepokan Sambung Roso Mojopahit, Ki Suryo Alam secara konsisten menguraikan atau medar ajaran klasik ini. Langkah tersebut bertujuan agar esensi kesucian ajaran leluhur dapat lebih mudah dipahami dan diresapi oleh masyarakat modern. Bagi Padepokan Sambung Roso Mojopahit, penguatan spiritual kebudayaan bukan sekadar upaya menjaga tradisi, melainkan menjadi jembatan strategis untuk menyatukan kebinekaan bangsa Indonesia melalui jalur budaya yang damai dan sejuk.

 

"Budaya dan spiritualitas Jawa bukanlah masa lalu yang usang, melainkan kompas moral yang sangat relevan untuk menavigasi kehidupan modern. Melalui jalur budaya, kita tidak hanya merawat ingatan sejarah, tetapi juga menyebarkan pesan kedamaian yang melintasi segala perbedaan," ujar Ki Suryo Alam.

 

Inti dari ajaran Kawruh Jawa Kasampurnan Budi Luhur bertumpu pada konsep keselarasan hidup serta empat pilar utama yang menjadi pedoman spiritual para pengikutnya. Pilar utama pertama adalah Sangkan Paraning Dumadi, yang menuntut setiap insan untuk menyadari dan memahami hakikat keberadaannya, yaitu dari mana ia berasal dan ke mana arah tujuan akhir hidupnya. Konsep ini menanamkan kesadaran penuh bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang kelak akan kembali menghadap-Nya dalam kondisi yang suci dan bersih.

 

Selain kesadaran asal usul, ajaran ini menekankan pentingnya lima perilaku utama atau utamaning laku untuk mencapai kemurnian jiwa atau kasampurnan. Setiap penganut diwajibkan mengamalkan nilai kejujuran dengan berkata dan bertindak selaras dengan hati nurani, kesabaran dalam menahan diri serta berlapang dada menghadapi ujian hidup, serta sifat nrimo atau ikhlas menerima segala ketentuan Tuhan tanpa mengeluh. Di samping itu, rasa welas asih harus ditebarkan kepada sesama makhluk tanpa memandang perbedaan, diiringi sikap eling lan waspada agar senantiasa ingat akan Sang Pencipta dan leluhur serta selalu mawas diri dalam setiap langkah kehidupan.

 

"Manusia yang mencapai kasampurnan adalah mereka yang mampu menundukkan egonya sendiri. Utamaning laku mulai dari jujur hingga eling lan waspada adalah kunci utama untuk membersihkan cermin jiwa agar kita bisa memantulkan cahaya kebaikan Tuhan kepada sesama makhluk," tambah Ki Suryo Alam.

 

Selanjutnya, ajaran ini mengajarkan pentingnya penyelarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Pada ranah makrokosmos atau Jagat Gede, alam semesta raya dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang wajib dijaga kelestariannya oleh manusia. Sementara pada ranah mikrokosmos atau Jagat Cilik yang mencakup tubuh fisik, pikiran, nafsu, dan ruhani, setiap individu dituntut untuk mampu mengendalikan hawa nafsu serta menyelaraskan dualitas pikiran dan rasa demi tercapainya kedamaian batin.

 

"Ketika seseorang mampu mendamaikan perperangan di dalam Jagat Cilik-nya sendiri—yaitu dengan mengendalikan hawa nafsu dan menata rasa—maka secara otomatis ia akan membawa kedamaian pula bagi Jagat Gede atau alam semesta di sekitarnya. Inilah hakikat dari hidup yang selaras," jelasnya.

 

Seluruh nilai luhur tersebut dirangkum dalam konsep Panji Utamaning Laku dan Kebersamaan, yang divisualisasikan melalui logo padepokan berupa bunga cempaka sebagai simbol harumnya kebaikan. Ajaran ini menekankan pentingnya ngluri jejak leluhur atau melestarikan warisan spiritual dan budaya bangsa. Setiap penganut diajak untuk mengutamakan kebersamaan dan semangat gotong royong di atas kepentingan pribadi, serta berkomitmen memberikan kontribusi dan kebaikan secara nyata di tengah masyarakat luas. Melalui pengamalan nilai-nilai ini, Padepokan Sambung Roso Mojopahit berharap kearifan spiritual Nusantara dapat menjadi benteng moral yang mempererat persatuan dan menjaga keharmonisan Indonesia.(Im) 

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN

">