Cuaca
Memuat cuaca...
Nasional

Sejarah Baru Gandrung Sewu! Kembang Dermo Hadirkan Spektakel Cahaya di Pantai Boom Marina

Sejarah Baru Gandrung Sewu! Kembang Dermo Hadirkan Spektakel Cahaya di Pantai Boom Marina
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | BANYUWANGI – Sejarah baru siap ditorehkan di panggung kebudayaan Banyuwangi! Festival kolosal Gandrung Sewu kembali hadir dengan gebrakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak digelar pada 2012, ribuan penari Gandrung akan tampil pada malam hari dalam pertunjukan bertajuk Gandrung Sewu Glow in the Dark, Sabtu (24/10/2026).

 

Bukan sekadar pergelaran tari massal, Gandrung Sewu 2026 menjadi momentum istimewa ketika warisan leluhur bertemu dengan kreativitas modern. Berbalut tata cahaya dan teknologi pertunjukan, Pantai Boom Marina dipersiapkan menjadi panggung megah yang menghadirkan pesona seni tradisi dalam atmosfer berbeda.

 

Mengusung tema Kembang Dermo, pertunjukan tahun ini membawa pesan tentang adat, tradisi, dan nilai-nilai budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Banyuwangi. Ribuan penari akan menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah festival yang telah menjelma menjadi salah satu ikon kebanggaan Bumi Blambangan.

 

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Gandrung Sewu bukan hanya agenda pertunjukan tahunan, melainkan perjalanan panjang untuk menjaga identitas daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.

 

Sejak pertama kali digelar pada 2012 dengan tema Jejer Gandrung, festival ini terus berkembang. Setiap tahun, Gandrung Sewu menghadirkan kisah berbeda yang merangkai sejarah, perjuangan, adat istiadat, dan kehidupan masyarakat Osing ke dalam pertunjukan kolosal.

 

“Selama lebih dari satu dekade, ribuan penari Gandrung telah tampil bersama di kawasan Pantai Boom Marina, dengan latar Selat Bali. Setiap pergelaran membawa tema berbeda, mengangkat kekayaan sejarah, adat, perjuangan, hingga keberagaman budaya yang hidup di Banyuwangi,” kata Ipuk, Jumat (23/10/2026).

 

Dari Jejer Gandrung hingga Kembang Dermo, Jejak Sejarah yang Terus Hidup

 

Perjalanan Gandrung Sewu menyimpan rangkaian cerita yang merekam kekayaan budaya Banyuwangi. Dimulai dari Jejer Gandrung pada 2012, festival ini kemudian menghadirkan Paju Gandrung pada 2013, dilanjutkan Seblang Subuh pada 2014, Podo Nonton pada 2015, Seblang Lukinto pada 2016, dan Kembang Pepe pada 2017.

 

Pada 2018, tema Layar Kumendung membawa pesan sejarah yang kuat, disusul Panji-Panji Sunangkoro pada 2019 yang mengangkat kisah perlawanan terhadap penjajahan.

 

Gandrung Sewu kemudian memperluas jangkauan pesannya. Tema Gandrung Sewu Nusantara pada 2021 menjadi ruang penghubung warga Banyuwangi di berbagai daerah hingga luar negeri dalam semangat pelestarian budaya. Setahun berikutnya, Sumunare Tlatah Blambangan mengangkat sejarah dan kebangkitan Bumi Blambangan.

 

Pada 2023, Omprog: The Glory of Art menonjolkan keagungan mahkota khas penari Gandrung. Tahun 2024 menghadirkan Payung Agung: The Diversity of Culture, sedangkan Selendang Sang Gandrung pada 2025 menyampaikan pesan cinta kasih, perjuangan, dan warisan budaya masyarakat Osing.

 

Kini, pada penyelenggaraan tahun ke-14, Gandrung Sewu memasuki babak baru melalui Kembang Dermo dengan konsep pertunjukan malam yang mengandalkan perpaduan gerak tari, tata cahaya, dan visual panggung.

 

Bukan Sekadar Tarian, tetapi Pernyataan Kebanggaan Budaya

 

Menurut Ipuk, perubahan waktu pertunjukan bukan sekadar menghadirkan suasana baru. Konsep malam memberikan ruang eksplorasi artistik yang lebih luas untuk memperkuat daya tarik pertunjukan, tanpa menghilangkan akar tradisi yang menjadi identitas Gandrung.

 

“Perubahan waktu pertunjukan bukan sekadar menghadirkan suasana berbeda. Panggung malam membuka ruang eksplorasi artistik yang lebih luas, dengan permainan cahaya dan visual yang memperkuat kemegahan gerak ribuan penari Gandrung,” jelasnya.

 

Gandrung sendiri merupakan kesenian khas Banyuwangi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Osing. Istilah Gandrung bermakna terpikat atau mencintai. Dari kesenian yang diwariskan antargenerasi itu, Gandrung Sewu berkembang menjadi panggung besar untuk memperlihatkan kekayaan identitas budaya Banyuwangi.

 

Lebih jauh, festival ini juga menjadi ruang regenerasi penari muda, sarana mengenalkan sejarah lokal, sekaligus bagian dari pengembangan pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat.

 

“Melalui Gandrung Sewu, pelestarian budaya juga berjalan beriringan dengan regenerasi penari muda, pembelajaran sejarah lokal, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat,” ujar Ipuk.

 

Panggung Malam, Babak Baru Gandrung Sewu

 

Gandrung Sewu 2026 dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026, mulai pukul 18.30 WIB di Pantai Boom Marina, Banyuwangi.

 

Dari Jejer Gandrung hingga Kembang Dermo, perjalanan festival ini menegaskan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang disimpan dalam ingatan. Tradisi dapat terus berkembang, beradaptasi, dan tampil dengan wajah baru tanpa kehilangan jati dirinya.

 

Kini, sorotan tertuju pada Pantai Boom Marina. Di panggung malam itulah, Gandrung Sewu bersiap membuka lembaran baru membawa denyut budaya Banyuwangi ke tengah gemerlap cahaya, sekaligus membuktikan bahwa warisan leluhur tetap mampu memikat zaman.(silvi) 

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN

">