Cuaca
Memuat cuaca...
Pemerintahan

Darurat Sampah Sungai Kalimati! 15 Ton Diangkut, Ipuk Perintahkan Pembersihan Sampai Muara

Darurat Sampah Sungai Kalimati! 15 Ton Diangkut, Ipuk Perintahkan Pembersihan Sampai Muara
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | BANYUWANGI – Tumpukan sampah yang mencemari Sungai Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, mulai mendapat perlawanan serius. Lebih dari 15 ton sampah berhasil diangkat dalam aksi gotong royong lintas sektor yang kini memasuki tahap percepatan penanganan hingga kawasan muara.

Gempur rokok

 

Tak sekadar membersihkan sungai, langkah ini menjadi upaya besar untuk memulihkan lingkungan sekaligus menyelamatkan aktivitas nelayan yang selama ini terdampak pencemaran.

 

Hingga Rabu (28/10/2026), proses pembersihan telah mencapai sekitar 90 persen dari target penanganan sepanjang 800 meter aliran Sungai Kalimati. Sekitar 700 meter sungai telah dibersihkan, sementara 100 meter sisanya berada di kawasan muara yang menjadi titik krusial penanganan.

 

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani turun langsung meninjau perkembangan pembersihan tersebut. Ia memastikan penanganan tidak berhenti hanya karena sebagian besar aliran sungai telah terlihat bersih.

 

"Alhamdulillah, sungai sudah mulai terlihat bersih. Teman-teman telah bergerak mengambil sampah sejak hari Senin. Sekarang kita lanjutkan penanganannya, terutama di kawasan muara," kata Ipuk.

 

Aksi pembersihan yang dimulai sejak Senin (26/10/2026) itu melibatkan kekuatan lintas sektor. Warga, pemerintah desa, kecamatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PU Pengairan, Dinas PU Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (CKPP), hingga NGO Sungai Watch bahu-membahu mengangkat sampah yang menumpuk di aliran sungai.

 

Muara Jadi Titik Krusial, Alat Berat Disiapkan

 

Meski sebagian besar aliran sungai telah dibersihkan, Pemkab Banyuwangi tidak ingin penanganan berhenti di tengah jalan.

 

Kawasan muara menjadi perhatian khusus karena sampah yang terkumpul berpotensi kembali terbawa arus pasang menuju aliran sungai. Kondisi tersebut membuat penanganan di titik akhir aliran air harus dilakukan secara menyeluruh.

 

Pemkab Banyuwangi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyiapkan ekskavator untuk mempercepat pengangkatan sampah di kawasan tersebut.

 

"Harus kita lakukan sampai ke muara. Kita siapkan alat berat agar pengangkatan sampah bisa dilakukan lebih optimal," tegas Ipuk.

 

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memastikan sampah yang telah berhasil dikumpulkan tidak kembali mencemari kawasan sungai dan perairan sekitarnya.

 

CCTV hingga Satgas Lingkungan, Perang Sampah Tak Boleh Berhenti

 

Di balik aksi pengangkutan belasan ton sampah, Pemkab Banyuwangi juga mulai memperkuat langkah pencegahan.

 

Rencana pemasangan kamera pengawas atau CCTV di sepanjang aliran Sungai Kalimati disiapkan untuk mendukung pengawasan terhadap aktivitas pembuangan sampah sembarangan.

 

Selain itu, edukasi pengelolaan sampah akan terus digencarkan dengan melibatkan kelompok peduli lingkungan. Inisiatif warga yang membentuk satuan tugas (satgas) untuk mendukung penanganan sampah laut juga mendapat apresiasi dari Bupati Ipuk.

 

Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui kegiatan bersih-bersih sesaat. Perubahan perilaku masyarakat dan pengelolaan sampah yang terstruktur menjadi kunci agar pencemaran tidak terus berulang.

 

"Sampah yang sudah ada harus kita tangani, termasuk pencegahan ke depan. Mari kelola sampah dengan baik dan tidak membuangnya sembarangan, karena dampak buruknya," ujar Ipuk.

 

Ia juga meminta Dinas Lingkungan Hidup meningkatkan manajemen pengelolaan sampah di kawasan tersebut, sekaligus mengajak masyarakat membangun kesadaran kolektif untuk menjaga sungai.

 

"Saya juga meminta warga dengan kesadaran bersama agar bersedia mengikuti pengelolaan sampah yang baik, sehingga tidak lagi membuang sampah di sungai," imbuhnya.

 

15 Ton Sampah Rumah Tangga, Nelayan Ikut Menanggung Dampaknya

 

Community Coordinator Sungai Watch, Dewi Fatmawati, mengungkapkan bahwa pembersihan difokuskan pada aliran sungai sepanjang 800 meter.

 

Hingga Rabu, sekitar 700 meter telah berhasil dibersihkan. Pekerjaan tersisa sekitar 100 meter di kawasan muara.

 

"Selama dua hari, sampah yang berhasil kami kumpulkan mencapai lebih dari 15 ton. Mayoritas didominasi sampah rumah tangga non-organik," ungkap Dewi.

 

Sampah yang terkumpul kemudian diangkut menuju TPS3R Karetan untuk penanganan lebih lanjut. Kondisinya yang telah terkontaminasi membuat sampah tersebut tidak memungkinkan untuk didaur ulang.

 

Pencemaran Sungai Kalimati ternyata bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya juga dirasakan langsung oleh masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut.

 

Mohammad Razak Cahyono, nelayan setempat, mengungkapkan bahwa kondisi perairan yang dipenuhi sampah dapat mengganggu aktivitas mencari ikan.

 

Bahkan, ketika musim ikan tiba, hasil tangkapan nelayan tetap sulit diperoleh karena ikan enggan mendekat ke perairan yang tercemar.

 

"Meskipun sedang musim ikan, hasil tangkapan menjadi susah didapat karena ikan enggan mendekat ke perairan yang penuh sampah. Kami sangat mendukung langkah-langkah yang dilakukan saat ini," kata Razak.

 

Bukan Sekadar Bersih, Sungai Kalimati Harus Kembali Berfungsi

 

Pengangkatan lebih dari 15 ton sampah menjadi langkah awal untuk memulihkan kondisi Sungai Kalimati. Namun, tantangan sesungguhnya adalah memastikan pencemaran tidak kembali terjadi.

 

Percepatan pembersihan hingga muara, pengawasan melalui CCTV, edukasi masyarakat, serta penguatan manajemen pengelolaan sampah menjadi rangkaian upaya yang diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan.

 

Sungai Kalimati kini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah bukan hanya tentang lingkungan yang kotor, tetapi juga menyangkut ekosistem perairan, keberlangsungan mata pencaharian nelayan, dan tanggung jawab bersama menjaga alam.

 

Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan komunitas lingkungan, upaya memulihkan Sungai Kalimati diharapkan tidak berhenti pada pengangkatan belasan ton sampah, melainkan menjadi titik balik menuju sungai yang lebih bersih dan lestari. (silvi) 

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN

">