Cuaca
Memuat cuaca...
Pemerintahan

Setiap Pagi Ada yang Mengetuk Pintu, Kisah Rantang Kasih Banyuwangi yang Menghangatkan Hati Lansia Sebatang Kara

Setiap Pagi Ada yang Mengetuk Pintu, Kisah Rantang Kasih Banyuwangi yang Menghangatkan Hati Lansia Sebatang Kara
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS, | BANYUWANGI, – Di saat sebagian orang memulai pagi dengan kesibukan keluarga, sejumlah lansia dhuafa di Banyuwangi justru menjalani hari dalam kesendirian. Namun, mereka tak sepenuhnya sendiri. Setiap pukul 06.30 WIB, sebuah kepedulian datang mengetuk pintu rumah mereka, membawa makanan sekaligus perhatian yang begitu berarti di usia senja.

 

Itulah wajah kemanusiaan yang terus dijaga melalui program Rantang Kasih Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Program pemberian makanan gratis bagi lansia miskin yang hidup sebatang kara ini menjadi penopang kebutuhan pangan sekaligus menghadirkan kehangatan bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan.

 

Salah satu penerimanya adalah Sahani, 67 tahun, warga Kelurahan Banyuwangi. Telah lama ditinggal suami dan tidak dikaruniai anak, Sahani menjalani hari-harinya seorang diri. Dalam keterbatasan itu, kehadiran Elok Susanti setiap pagi menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

 

Bagi Sahani, makanan yang diantarkan bukan sekadar santapan untuk mengisi perut. Ada perhatian, kepedulian, dan perasaan bahwa dirinya masih diperhatikan di tengah kesunyian hidup.

 

Kebahagiaan serupa dirasakan Samsiyah, 69 tahun, warga Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi. Hidup sendirian membuat kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri. Melalui Rantang Kasih, ia tak lagi harus terlalu khawatir memikirkan makanan setiap hari.

 

Rasa syukur itu disampaikan Sahani saat menerima kunjungan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa (20/10/2026).

 

“Alhamdulillah, saya setiap hari diantar makanan. Semoga Ibu Bupati selalu sehat, yang memasak dan mengantar makanan saya setiap hari juga saya doakan sehat dan banyak rezekinya,” ujar Sahani haru.

 

ANGGARAN RP6,1 MILIAR, KEPEDULIAN UNTUK LANSIA TETAP BERJALAN

 

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Pemkab Banyuwangi memastikan program Rantang Kasih tetap berlanjut. Bagi pemerintah daerah, pemenuhan kebutuhan dasar warga lanjut usia, khususnya mereka yang hidup miskin dan tanpa pendamping keluarga, merupakan perhatian yang tidak boleh diabaikan.

 

Bupati Ipuk Fiestiandani menegaskan, Rantang Kasih bukan semata-mata program pembagian makanan. Lebih dari itu, program tersebut merupakan wujud kehadiran pemerintah untuk memastikan para lansia tetap memperoleh perhatian dan dukungan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

 

“Di tengah efisiensi, kami terus melanjutkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya Rantang Kasih ini, yang memang sangat dibutuhkan oleh warga lansia kami,” kata Ipuk.

 

Digulirkan sejak 2017, Rantang Kasih telah menjangkau lebih dari 8.000 lansia miskin di Banyuwangi. Pada 2026, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sekitar Rp6,1 miliar dengan sasaran sekitar 839 lansia penerima manfaat.

 

Keberlanjutan program ini juga ditopang semangat gotong royong. Pemerintah desa, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Banyuwangi, serta sejumlah perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau CSR turut berkontribusi membantu warga yang membutuhkan.

 

Ipuk menyadari, keterbatasan anggaran membuat pemerintah tidak bisa berjalan sendirian. Karena itu, kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci agar bantuan dapat menjangkau lebih banyak lansia yang hidup dalam kesulitan.

 

“Kami tidak sendiri. Pemerintah desa, Baznas, maupun sejumlah korporasi melalui CSR ikut mendukung program ini karena anggaran kami terbatas sementara masih ada lansia yang perlu dibantu. Harapannya, dengan bergandengan tangan manfaatnya bisa menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan,” ujarnya.

 

EL0K SUSANTI, SOSOK DI BALIK HANTARAN MAKANAN DAN PERHATIAN

 

Di balik keberlangsungan Rantang Kasih, terdapat sosok-sosok yang bekerja dengan ketulusan. Salah satunya Elok Susanti, kader Dasawisma dan PKK yang setiap hari mengantarkan makanan kepada dua lansia penerima manfaat, termasuk Sahani.

 

Elok pula yang mengusulkan Sahani agar mendapatkan bantuan melalui program tersebut. Baginya, tugas mengantarkan makanan bukan sekadar rutinitas, melainkan kesempatan untuk membantu sesama.

 

“Setiap hari saya yang mengantar. Tak jarang mereka request makanan tertentu. Bagi saya ini adalah ladang amal,” tutur Elok.

 

Kepedulian Elok bahkan tidak berhenti ketika makanan telah sampai di tangan penerima. Ia turut memperhatikan kondisi kesehatan para lansia yang menjadi tanggung jawabnya.

 

Jika mendapati lansia sedang sakit, Elok segera melaporkannya kepada bidan posyandu agar dapat dilakukan pemeriksaan ke rumah. Langkah sederhana ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap lansia membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan pangan.

 

Ada kepedulian yang harus terus dirawat, ada kondisi kesehatan yang perlu dipantau, dan ada kebutuhan emosional yang tidak boleh luput dari perhatian.

 

RANTANG KASIH, GOTONG ROYONG YANG MENJAGA MARTABAT LANSIA

 

Melalui Rantang Kasih, Pemkab Banyuwangi berupaya memastikan lansia yang hidup dalam keterbatasan tetap memperoleh makanan bergizi sekaligus perhatian dari lingkungan sekitarnya.

 

Program ini mempertemukan pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, pelaku usaha, dan masyarakat dalam satu gerakan kepedulian. Setiap pihak memiliki peran untuk memastikan para lansia tidak menghadapi masa tuanya seorang diri tanpa dukungan.

 

“Lebih dari sekadar bantuan pangan, program ini menjadi ruang gotong royong yang mempertemukan pemerintah, tenaga kesehatan, pelaku usaha, dan warga untuk merawat sesama,” kata Ipuk.

 

Dari sepiring makanan yang tiba setiap pagi, tersimpan pesan sederhana namun mendalam: kepedulian tidak harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Terkadang, perhatian yang konsisten dan kehadiran seseorang di depan pintu rumah justru menjadi kekuatan bagi mereka yang menjalani hari-hari dalam kesendirian.

 

Rantang Kasih pun menjadi pengingat bahwa ukuran kemajuan daerah bukan hanya pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana masyarakat yang paling rentan tetap mendapatkan perhatian, perlindungan, dan kesempatan menjalani hari tua dengan lebih layak.(silvi) 

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN

">