RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | BANYUWANGI – Pesona seni budaya Banyuwangi kembali mengguncang dunia pariwisata! Gandrung Sewu 2026 tampil dengan gebrakan spektakuler melalui konsep Glow in The Dark yang menyulap pertunjukan tari kolosal menjadi tontonan malam penuh cahaya. Dampaknya luar biasa, arus kedatangan wisatawan domestik hingga mancanegara meningkat, sementara hotel dan homestay di Banyuwangi ramai diburu hingga banyak yang kehabisan kamar.
Pertunjukan akbar yang digelar di Pantai Boom Banyuwangi pada Sabtu (24/10/2026) malam itu menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung perpaduan seni tradisional, kemegahan visual, dan atmosfer malam yang berbeda dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.
Lonjakan permintaan penginapan terasa pada periode 21–25 Oktober 2026. Sejumlah hotel bahkan melaporkan seluruh kamar telah dipesan, menandakan bahwa Gandrung Sewu bukan sekadar agenda kebudayaan, melainkan juga memiliki daya ungkit besar bagi sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa penyelenggaraan berbagai agenda pariwisata diharapkan mampu menghadirkan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat.
“Inilah yang kami harapkan dari setiap event yang digelar di Banyuwangi. Semua sektor mulai masyarakat hingga pelaku usaha, dari pedagang asongan hingga penginapan serta sektor lainnya ikut mendapat manfaatnya,” kata Ipuk, Jumat (23/10/2026).
GLOW IN THE DARK, GANDRUNG SEWU TAMPIL BEDA
Tahun ini, Gandrung Sewu menghadirkan wajah baru. Dengan dukungan InJourney, holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata, pertunjukan yang melibatkan ribuan penari tersebut dikemas dalam konsep Glow in The Dark.
Jika sebelumnya penonton menikmati kemegahan tari Gandrung pada siang hari, kali ini suasana malam menjadi panggung utama. Instrumen khusus yang digunakan para penari memancarkan cahaya warna-warni, menciptakan visual yang semakin memikat di kawasan Pantai Boom.
Inovasi tersebut memperkuat daya tarik Gandrung Sewu sebagai ikon budaya Banyuwangi. Perpaduan tradisi dan sentuhan pertunjukan modern sekaligus membuka peluang bagi daerah untuk menarik lebih banyak wisatawan dan memperpanjang masa tinggal mereka.
HOTEL PENUH, RESERVASI TERPAKSA DITOLAK
Dampak lonjakan kunjungan itu dirasakan langsung oleh pelaku usaha perhotelan. El Hotel Banyuwangi mencatat peningkatan pemesanan sejak Rabu (21/10/2026). Mayoritas tamu berasal dari Jakarta, Bali, dan Surabaya, dengan sebagian memilih menginap hingga 25 Oktober.
Sales Manager El Hotel Banyuwangi, Devi Krisna, mengungkapkan bahwa seluruh kamar hotelnya penuh pada 24 Oktober sehingga pihaknya harus menolak sejumlah permintaan reservasi.
“Peningkatan okupansi terjadi sejak Rabu (21/10). Mayoritas tamu kami adalah rombongan dari Jakarta, Bali, dan Surabaya yang sengaja stay sampai tanggal 25, untuk menyaksikan Gandrung Sewu. Bahkan tanggal 24, semua kamar kami penuh sehingga harus menolak reservasi,” ujar Devi.
Kondisi serupa terjadi di Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center. Seluruh tipe kamar di hotel tersebut telah habis dipesan sejak Kamis (22/10/2026).
Sales and Marcom Manager Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center, Alif Fauzan, mengatakan tingkat keterisian kamar diperkirakan tetap tinggi hingga akhir pekan.
“Saat ini kamar kami penuh sampai 25 Oktober. Kami senang berbagai event yang digelar Pemkab Banyuwangi, termasuk Gandrung Sewu, memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha pariwisata seperti kami,” kata Alif.
Sementara itu, Villa Solong mencatat okupansi mencapai 91 persen pada Jumat pagi (23/10/2026). Pengelola optimistis tingkat keterisian kamar terus meningkat menjelang pelaksanaan pertunjukan.
“Pagi ini okupansi kami sudah 91 persen. Kami optimis malam ini bisa fully booked. Karena pengalaman kami biasanya di last minute baru banyak pesanan,” ujar General Manager Villa Solong, Imam Solehan.
WISATAWAN EROPA IKUT TERPUKAU PESONA BANYUWANGI
Tak hanya hotel berbintang, geliat pariwisata juga terasa di sektor homestay. Didu’s Homestay menjadi salah satu penginapan yang menerima kunjungan wisatawan mancanegara, termasuk tamu dari Prancis dan Belanda yang sengaja datang untuk menyaksikan Gandrung Sewu.
Pemilik Didu’s Homestay, Maya Subagio, menyebut berbagai agenda pariwisata memiliki pengaruh terhadap tingkat hunian penginapan, termasuk melalui kedatangan wisatawan yang menjadikan pertunjukan budaya sebagai tujuan perjalanan mereka.
“Setiap ada event, pasti okupansi ikut terdongkrak. Kali ini, saya kedatangan sejumlah tamu dari Eropa, yakni Perancis dan Belanda, yang sengaja ingin menyaksikan Gandrung Sewu,” ungkap Maya.
Kedatangan wisatawan lintas daerah hingga mancanegara memperlihatkan bahwa daya tarik kebudayaan dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas pasar pariwisata Banyuwangi.
LEBIH DARI PERTUNJUKAN, ADA PERPUTARAN EKONOMI
Gandrung Sewu 2026 membuktikan bahwa inovasi dalam mengemas warisan budaya dapat menghadirkan daya tarik baru bagi wisatawan. Efeknya tidak berhenti di panggung pertunjukan, tetapi turut dirasakan oleh sektor akomodasi dan pelaku usaha yang melayani kebutuhan pengunjung.
Dari kamar hotel yang habis dipesan hingga homestay yang menerima tamu asing, momentum ini menjadi peluang bagi Banyuwangi untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata berbasis seni dan budaya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan lonjakan kunjungan tersebut menghasilkan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan, mulai dari pelaku UMKM, pedagang, transportasi, kuliner, hingga masyarakat di sekitar destinasi wisata.
Dengan konsep Glow in The Dark yang tampil berbeda, Gandrung Sewu 2026 bukan hanya menghadirkan kemegahan ribuan penari di bawah langit malam Banyuwangi, tetapi juga menyalakan harapan bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pariwisata budaya.(silvi)