Cuaca
Memuat cuaca...
Nasional

733 Tahun Bhayangkara, Ironi di Mojokerto! Sejarah Leluhur Terancam Rayap, Kapolri Suyudi Diharapkan Turun Tangan

733 Tahun Bhayangkara, Ironi di Mojokerto! Sejarah Leluhur Terancam Rayap, Kapolri Suyudi Diharapkan Turun Tangan
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | MOJOKERTO – Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Di dalamnya tersimpan perjuangan, pengorbanan, serta jejak para leluhur yang seharusnya dijaga dan dihormati oleh generasi penerus.

Gempur rokok

 

Namun, sebuah ironi mencuat dari Tanah Bhayangkara di Mojokerto. Di tengah kebanggaan terhadap nama besar Bhayangkara yang melekat pada institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri), kondisi situs bersejarah yang diyakini memiliki keterkaitan dengan perjalanan Bhayangkara justru menuai keprihatinan.

 

Bahkan, muncul kekhawatiran bahwa peninggalan sejarah tersebut perlahan-lahan akan rusak dimakan usia, bahkan rayap, apabila tidak mendapatkan perhatian serius.

 

733 Tahun Bhayangkara, tetapi Jejak Sejarahnya Terancam Terlupakan?

 

Ungkapan keprihatinan itu menjadi tamparan bagi siapa pun yang mengaku mencintai sejarah bangsa.

 

Selama ini, nama Bhayangkara kerap digaungkan sebagai simbol pengabdian, keberanian, dan kesetiaan dalam menjaga keamanan negara. Namun, bagaimana jika jejak sejarah yang menjadi bagian dari kebesaran nama tersebut justru luput dari perhatian?

 

Pertanyaan inilah yang kini menggema dari Mojokerto.

 

Seorang pemerhati sekaligus penjaga cagar budaya Bhayangkara mengungkapkan bahwa dirinya telah mengabdikan waktu selama kurang lebih 29 tahun untuk merawat dan menjaga peninggalan bersejarah tersebut.

 

Pengabdian panjang itu dilakukan dengan harapan agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman.

 

Namun, menurut pengakuannya, perhatian terhadap situs bersejarah tersebut masih dirasakan minim.

 

“Selama 29 tahun saya memelihara cagar budaya Bhayangkara. Sangat miris melihat sejarah yang begitu besar, tetapi seolah tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya,” ungkapnya.

 

Kapolri Suyudi Ario Seto, Saatnya Sejarah Bhayangkara Mendapatkan Perhatian

 

Sorotan kini diarahkan kepada Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.

 

Harapan agar pimpinan tertinggi Polri memberikan perhatian terhadap peninggalan sejarah Bhayangkara di Mojokerto semakin menguat.

 

Bukan semata-mata persoalan bangunan tua atau situs bersejarah, melainkan menyangkut tanggung jawab moral dalam menjaga warisan leluhur yang memiliki nilai historis bagi perjalanan institusi kepolisian.

 

Nama Bhayangkara tidak seharusnya hanya menjadi simbol kebanggaan dalam seragam, lambang, maupun peringatan hari besar kepolisian.

 

Lebih dari itu, sejarahnya harus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Jangan sampai ketika nama Bhayangkara terus diagungkan, justru peninggalan sejarahnya dibiarkan menghadapi kerusakan tanpa perhatian yang memadai.

 

Jangan Tunggu Sejarah Hilang, Baru Semua Menyesal!

 

Dalam perjalanan bangsa, menghargai jasa para pendahulu bukan sekadar slogan. Penghormatan terhadap sejarah harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

 

Jika benar situs bersejarah Bhayangkara di Mojokerto belum mendapatkan perhatian yang memadai, maka sudah saatnya dilakukan peninjauan, pendataan, serta langkah pelestarian yang serius.

 

Pemerintah daerah, instansi terkait, dan Polri diharapkan dapat duduk bersama untuk memastikan keberadaan situs tersebut tetap terjaga.

 

Sebab, ketika sebuah peninggalan sejarah hancur, yang hilang bukan hanya bangunannya. Ada identitas, nilai perjuangan, dan jejak perjalanan bangsa yang ikut terkubur.

 

Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal Bhayangkara dari cerita, sementara bukti sejarahnya telah lenyap dimakan waktu.

 

733 tahun Bhayangkara bukan sekadar angka. Ia adalah pengingat bahwa sejarah harus dihormati, bukan dibiarkan terlupakan.

 

Kini, masyarakat menanti langkah nyata.

 

Akankah sejarah Bhayangkara di Mojokerto mendapatkan perhatian yang layak, atau justru terus terpinggirkan di tengah gemerlap simbol kebesaran institusi?

 

Jangan sampai rayap menggerogoti peninggalan sejarah, sementara kepedulian datang terlambat.***

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN

">