Kampus Hijau dan Tantangan Mengubah Kebiasaan
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.
Oleh: Dewi Deniaty Sholihah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN “Veteran” Jawa Timur

RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | SURABAYA — Selasa, 27/10/2026. Seberapa mudah seseorang menjalankan kebiasaan ramah lingkungan di kampusnya? Pertanyaan ini layak menjadi bagian dari pembahasan tentang kampus hijau. Mahasiswa dapat diajak membawa botol minum sendiri, tetapi mereka memerlukan akses pengisian air yang layak. Warga kampus dapat diimbau memilah sampah, tetapi mereka juga perlu mengetahui jenis sampah yang dipisahkan dan bagaimana pengelolaannya setelah dikumpulkan.




Contoh tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan berhubungan erat dengan pengalaman sehari-hari. Kesediaan individu untuk berubah perlu bertemu dengan fasilitas, aturan, dan kebiasaan bersama yang mendukungnya.
Sebagai akademisi di bidang pemasaran, saya melihat agenda kampus hijau sebagai ruang untuk memahami bagaimana kepedulian lingkungan diterjemahkan menjadi keputusan. Apa yang membuat seseorang bersedia mengurangi kemasan sekali pakai? Hambatan apa yang membuatnya kembali pada kebiasaan lama? Bagaimana kampus dapat membantu pilihan yang lebih bertanggung jawab menjadi lebih mudah dilakukan? Pertanyaan semacam ini penting agar komunikasi lingkungan memiliki arah yang jelas.




Salah satu contoh pembelajaran lingkungan dapat dilihat dalam kegiatan International Community Service pada ABLE International Summer Course 2026 di FEB UPN “Veteran” Jawa Timur. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa dari 12 negara melalui penanaman mangrove, pembersihan kawasan, dan penulisan Green Pledge atau komitmen perilaku hijau.
Rangkaian kegiatan itu menyediakan bahan refleksi tentang hubungan antara pengalaman langsung dan pembentukan kebiasaan. Penanaman mempertemukan peserta dengan kebutuhan perawatan ekosistem. Pembersihan kawasan memperlihatkan persoalan sampah. Sementara itu, komitmen tertulis mengajak peserta memikirkan tindakan yang dapat dilakukan setelah kegiatan selesai.




Tahap setelah kegiatan inilah yang menurut saya perlu mendapat perhatian lebih besar. Janji untuk menjaga lingkungan dapat menjadi pintu masuk perubahan. Meta-analisis Lokhorst dan rekan-rekan menunjukkan bahwa komitmen memiliki potensi mendorong perilaku prolingkungan, meskipun hasil penelitian yang ditelaah beragam dan mekanisme pengaruhnya masih memerlukan pemahaman lebih lanjut. Karena itu, keberadaan janji tertulis belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa kebiasaan peserta telah berubah.
Kampus perlu membantu warga menerjemahkan komitmen menjadi tindakan yang spesifik. Pernyataan “saya akan lebih peduli lingkungan” dapat diperjelas menjadi rencana membawa botol minum setiap hari kuliah atau mematikan perangkat listrik tertentu setelah selesai digunakan. Tindakan yang jelas memudahkan seseorang mengetahui apa yang perlu dikerjakan dan mengevaluasi pelaksanaannya.




Dari perspektif pemasaran sosial, kampanye lingkungan perlu memahami orang yang diajak berubah. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pengelola kantin, dan penyelenggara kegiatan menghadapi kebutuhan serta hambatan yang berbeda. Pesan yang sama belum tentu cukup untuk menjangkau semuanya.
Bagi mahasiswa, persoalannya mungkin kemudahan membawa dan membersihkan wadah makan. Bagi pedagang kantin, persoalannya dapat berupa biaya kemasan, kebersihan, dan kelancaran pelayanan. Bagi penyelenggara seminar, keputusan tentang konsumsi dan perlengkapan dipengaruhi anggaran serta pilihan pemasok.




Memahami hambatan tersebut membantu kampus merancang dukungan yang lebih tepat. Ajakan membawa wadah sendiri, misalnya, dapat dibicarakan bersama pengelola kantin agar pelaksanaannya praktis. Pengurangan kemasan dalam acara dapat dimulai sejak penyusunan anggaran dan pemilihan penyedia konsumsi.
Komunikasi kemudian berfungsi menjelaskan tindakan dan memudahkan pelaksanaannya. Petunjuk pemilahan sampah sebaiknya menggunakan contoh benda yang memang sering dibuang di lokasi tersebut. Informasi titik pengisian air perlu mudah ditemukan. Pengingat penghematan listrik perlu ditempatkan dekat perangkat dan disertai pembagian tanggung jawab yang jelas.



Keteladanan juga perlu hadir dalam rutinitas organisasi. Pilihan konsumsi rapat, penggunaan perlengkapan berulang kali, dan pengelolaan sampah acara menjadi pengalaman yang dapat diamati warga kampus. Konsistensi antara pesan dan praktik memberi dasar bagi kredibilitas komunikasi keberlanjutan.
Prinsip serupa berlaku pada kegiatan konservasi. Penanaman mangrove perlu diikuti perhatian terhadap kesesuaian lokasi, jenis tanaman, keterlibatan pengelola setempat, dan pemantauan. IUCN mengingatkan bahwa pemilihan jenis dan lokasi yang tidak tepat serta lemahnya pelibatan masyarakat dapat menghambat keberhasilan pemulihan mangrove.
Bagi perguruan tinggi, tindak lanjut tersebut merupakan kesempatan belajar. Mahasiswa dapat dilibatkan dalam pemantauan bersama pihak yang kompeten, pencatatan perkembangan, dan pembahasan kendala. Dengan demikian, mereka belajar bahwa tanggung jawab lingkungan membutuhkan pengetahuan dan kesediaan mengevaluasi hasil.
Evaluasi kampus hijau juga perlu menjangkau perubahan yang ingin dicapai. Kampus dapat mulai mencatat penggunaan kemasan sekali pakai pada kegiatan tertentu, memeriksa ketepatan pemilahan sampah, atau membandingkan konsumsi listrik pada periode yang sebanding. Perubahan angka perlu dibaca dengan mempertimbangkan jumlah pengguna, intensitas kegiatan, dan kondisi operasional.
Data sederhana yang dikumpulkan secara konsisten dapat membantu pengambilan keputusan. Hasilnya dapat dikomunikasikan secara terbuka, termasuk kendala dan bagian yang belum menunjukkan kemajuan. Keterbukaan semacam ini membuat warga kampus memahami alasan suatu program dilanjutkan, diperbaiki, atau dirancang ulang.
Pendekatan tersebut memiliki keterkaitan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama target 4.7 mengenai pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Kaitan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab terletak pada pembelajaran serta praktik konsumsi sehari-hari. Target 12.8 secara khusus menekankan pentingnya informasi dan kesadaran untuk menjalankan gaya hidup yang selaras dengan alam.
Dalam konteks ini, kampus mempunyai kesempatan menghubungkan pengetahuan dengan tata kelola. Mahasiswa mempelajari keberlanjutan melalui materi kuliah sekaligus melalui cara institusinya menggunakan sumber daya dan menangani konsekuensi dari kegiatan sehari-hari.
Saya memandang kampus hijau sebagai komitmen untuk terus memperbaiki hubungan antara pesan, fasilitas, dan perilaku. Aksi lingkungan membuka ruang partisipasi. Tugas berikutnya adalah menjaga agar partisipasi tersebut memiliki dukungan dan arah yang dapat dievaluasi.
Kesungguhan itu akan terlihat dalam keputusan yang berulang: bagaimana rapat diselenggarakan, bagaimana konsumsi disediakan, bagaimana sampah dikelola, dan bagaimana hasil program ditindaklanjuti. Dari keputusan sehari-hari tersebut, budaya keberlanjutan memperoleh bentuk yang nyata.(Im)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati