DRUM BAND SENILAI RP 1,2 MILIAR LEBIH DIUTAMAKAN, SEKOLAH AMBRUK DIABAIKAN: DI MANA NALAR DAN HATI NURANI PLT KEPALA DINAS PENDIDIKAN BANYUWANGI?
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.
Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC.
(Pemerhati Transparansi & Akuntabilitas Banyuwangi)





RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | Dunia pendidikan Kabupaten Banyuwangi sedang mempertontonkan sebuah ironi birokrasi yang sangat memprihatinkan. Ketika pengadaan seperangkat alat drumband untuk 4 sekolah mencapai lebih dari Rp1,2 miliar untuk menjadi perhatian anggaran, justru bangunan SD Negeri 4 Tamansari, Kecamatan Licin, dilaporkan mengalami keruntuhan. Situasi ini bukan sekadar persoalan perbedaan prioritas belanja, melainkan menyangkut cara pemerintah daerah memahami hakikat pendidikan dan keselamatan peserta didik. Apa gunanya membangun citra kemajuan pendidikan melalui fasilitas pendukung yang bersifat seremonial, apabila ruang belajar anak-anak justru tidak mampu memberikan perlindungan dan keamanan yang layak?
Pertanyaan mendasarnya adalah di mana sensitivitas kebijakan dan keberpihakan terhadap kebutuhan paling mendasar dalam dunia pendidikan? Dr. H. Alfian, S.Pd., M.Pd, selaku Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi harus memberikan penjelasan terbuka kepada publik. Jangan sampai jabatan strategis dalam birokrasi pendidikan hanya dipahami sebagai posisi administratif, tetapi kehilangan substansi kepemimpinan, keberanian mengambil keputusan, dan tanggung jawab moral. Ketika terdapat bangunan sekolah yang ambruk, persoalan tersebut semestinya menjadi alarm kedaruratan yang menuntut respons cepat, bukan dibiarkan menjadi berita yang perlahan tenggelam dalam rutinitas birokrasi.




Secara akademis, kebijakan anggaran pendidikan harus berpijak pada prinsip skala prioritas, efektivitas, efisiensi, pemerataan, dan perlindungan hak peserta didik. Pengadaan drumband tentu bukan sesuatu yang keliru apabila memiliki dasar kebutuhan, perencanaan, serta manfaat pedagogis yang terukur. Namun, menjadi persoalan serius ketika pengeluaran bernilai miliaran rupiah dipertanyakan urgensinya di tengah adanya persoalan infrastruktur sekolah yang menyangkut keselamatan anak-anak. Pendidikan bukan panggung pertunjukan untuk memamerkan kelengkapan fasilitas, melainkan tanggung jawab negara untuk memastikan setiap anak memperoleh lingkungan belajar yang aman, bermartabat, dan manusiawi.
Kami mempertanyakan apakah Dinas Pendidikan Banyuwangi memiliki pemetaan kondisi bangunan sekolah secara komprehensif? Apakah terdapat sistem pengawasan dan mitigasi risiko terhadap gedung-gedung sekolah yang mengalami kerusakan? Jika persoalan ini telah diketahui sebelumnya, mengapa tindakan preventif tidak dilakukan secara memadai? Dan jika baru diketahui setelah bangunan ambruk, bagaimana mekanisme pengawasan selama ini dijalankan? PLT Kepala Dinas Pendidikan tidak boleh berlindung di balik alasan keterbatasan kewenangan atau prosedur birokrasi. Publik berhak memperoleh transparansi mengenai perencanaan anggaran, dasar pengadaan drumband senilai lebih dari Rp1,2 miliar, kondisi SD Negeri 4 Tamansari, serta langkah konkret pemulihan fasilitas pendidikan tersebut.




Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berhenti mengukur keberhasilan pendidikan dari kemegahan program, seremoni, dan pengadaan barang yang mudah dipertontonkan. Ukuran keberhasilan pendidikan adalah ruang kelas yang aman, guru yang berkualitas, fasilitas yang memadai, serta anak-anak yang dapat belajar tanpa dihantui ancaman bangunan runtuh. Kami mendesak Dr. M. Alfian selaku PLT Kepala Dinas Pendidikan untuk memberikan pertanggungjawaban secara terbuka, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prioritas anggaran, dan memastikan rehabilitasi SD Negeri 4 Tamansari menjadi perhatian mendesak. Sebab, lebih baik anak-anak Banyuwangi belajar di sekolah sederhana yang kokoh daripada memiliki fasilitas drumband miliaran rupiah sementara keselamatan mereka dipertaruhkan. Jangan sampai suara tabuhan drumband lebih nyaring daripada jeritan kebutuhan pendidikan anak-anak yang sekolahnya ambruk!
HS.
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati