Cuaca
Memuat cuaca...
Pemerintahan

Kapal Dilalap Api, Selendang Hangus, Semangat Tak Terbakar! Perjuangan Penari Gandrung Sewu Bikin Haru

Kapal Dilalap Api, Selendang Hangus, Semangat Tak Terbakar! Perjuangan Penari Gandrung Sewu Bikin Haru
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | BANYUWANGI – Kobaran api yang melalap kapal penyeberangan tak memadamkan semangat lima penari asal Palembang dan Lampung untuk menjejakkan kaki di panggung budaya Banyuwangi. Meski baru saja melewati detik-detik menegangkan saat kapal yang mereka tumpangi terbakar, tekad untuk tampil dalam pagelaran Gandrung Sewu 2026 tetap membara.

 

Kisah perjuangan itu menyentuh hati Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Begitu mendengar kabar lima penari tersebut menjadi penumpang KMP Batamdi yang mengalami kebakaran di perairan sekitar Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Selasa (20/10/2026), Ipuk langsung menghubungi mereka melalui panggilan video pada Rabu (21/10/2026).

 

Bukan sekadar menanyakan kabar, Ipuk ingin memastikan kondisi para penari dan pendamping mereka setelah mengalami musibah yang mengancam keselamatan tersebut.

 

“Bagaimana kabar anak-anak semua? Sehat-sehat ya? Saya sangat khawatir kondisi kalian,” ujar Ipuk saat membuka percakapan melalui video call bersama pendamping rombongan, Suprianto.

 

Di balik layar ponsel, tersimpan kisah perjuangan yang tak mudah. Para penari yang semula berangkat dengan penuh antusias untuk mengikuti Gandrung Sewu harus menghadapi situasi darurat ketika kapal yang mereka tumpangi terbakar. Mereka bahkan harus dievakuasi menggunakan sekoci demi menyelamatkan diri.

 

Namun, musibah itu tak serta-merta meruntuhkan semangat mereka.

 

Selendang dan Kipas Terbakar, Semangat Menari Tak Ikut Padam

 

Salah satu peserta, Sefita Apriliani, menceritakan pengalaman menegangkan yang dialaminya kepada Ipuk. Ia mengungkapkan bagaimana para penumpang merasakan kondisi sesak saat kebakaran terjadi sebelum akhirnya dievakuasi.

 

Tak hanya menyisakan trauma, peristiwa itu juga membuat sejumlah perlengkapan tari mereka, termasuk selendang dan kipas yang berada di dalam kendaraan, ikut terbakar.

 

Bagi para penari, kehilangan tersebut bukan sekadar persoalan perlengkapan. Selendang dan kipas itu memiliki nilai emosional karena merupakan pemberian Ipuk kepada sanggar mereka beberapa tahun sebelumnya.

 

“Kejadiannya sangat menegangkan, Bu. Kami semua merasa sesak di dalam kapal saat mulai terbakar sebelum akhirnya diangkut sekoci. Kami sangat sedih selendang dan kipas kami ikut terbakar karena di dalam mobil. Itu kan pemberian Bu Ipuk ke sanggar kami beberapa tahun lalu,” tutur Sefita.

 

Kehilangan perlengkapan yang telah dipersiapkan untuk tampil tentu menjadi pukulan tersendiri. Namun, di tengah kesedihan itu, mereka memilih untuk tetap melangkah.

 

“Namun kami bertekad tetap tampil di Gandrung Sewu, tekad kami sudah bulat, Bu,” timpal Valencia, penari asal Palembang lainnya.

 

Pernyataan itu menjadi gambaran kuatnya kecintaan mereka terhadap seni dan budaya. Perjalanan yang sempat berubah menjadi pengalaman traumatis tak membuat mereka menyerah untuk menuntaskan misi budaya di Banyuwangi.

 

Bupati Ipuk Turun Tangan, Pemkab Siapkan Fasilitas

 

Mendengar kisah tersebut, Ipuk menyampaikan dukungan sekaligus memastikan pemerintah daerah akan membantu kebutuhan rombongan selama berada di Banyuwangi.

 

Ipuk menyampaikan bahwa kendaraan dari pemerintah daerah akan disiapkan untuk menjemput mereka di terminal tujuan. Pemkab Banyuwangi juga akan memfasilitasi kebutuhan para penari selama berada di daerah tersebut, termasuk perjalanan kembali ke Palembang dan Lampung.

 

“Nanti ada kendaraan dari pemda menjemput kalian di terminal bus terakhir. Pemkab akan memfasilitasi keperluan kalian selama di Banyuwangi. Termasuk juga hingga kalian kembali ke Lampung dan Palembang nantinya,” kata Ipuk.

 

Ipuk juga menyampaikan apresiasi atas keteguhan hati para penari yang tetap ingin berpartisipasi dalam perhelatan budaya tahunan tersebut, meski baru saja melewati pengalaman yang tidak mudah.

 

“Terima kasih atas semangatnya yang tetap mau berangkat ke Banyuwangi untuk Gandrung Sewu. Kami semua sangat terharu dengan perjuangan dan pengorbanan kalian semua,” ungkapnya.

 

Gandrung Sewu 2026, Panggung Budaya yang Menyatukan Perjuangan

 

Gandrung Sewu 2026 dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 18.30 WIB. Tahun ini, sebanyak 1.300 penari dijadwalkan terlibat, termasuk sekitar 200 peserta dari luar Banyuwangi.

 

Para penari tersebut datang dari berbagai daerah, di antaranya Palembang, Lampung, Jakarta, Bali, Malang, dan Pasuruan.

 

Kehadiran mereka bukan hanya memperkaya kemeriahan pertunjukan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seni dan budaya mampu mempertemukan orang-orang dari berbagai wilayah dalam satu panggung kebersamaan.

 

Kisah lima penari yang tetap bertekad tampil setelah selamat dari kebakaran kapal pun memberikan makna tersendiri menjelang pergelaran tersebut. Di balik gemerlap pertunjukan, ada perjuangan, pengorbanan, dan kecintaan terhadap budaya yang tidak selalu terlihat oleh penonton.

 

Dukungan dan doa turut mengalir dari masyarakat agar para penari dapat memulihkan kondisi, tiba dengan selamat di Banyuwangi, serta mengikuti pertunjukan sesuai kesiapan dan kondisi kesehatan mereka.

 

“Semoga mereka diberikan kekuatan dan bisa tampil dengan bagus di Gandrung Sewu. Kita semua salut dengan ketegaran mereka,” ujar Hujaini, warga Boyolangu.

 

Kini, harapan tertuju pada perjalanan mereka menuju Banyuwangi. Setelah menghadapi kobaran api dan kehilangan perlengkapan tari, keselamatan serta pemulihan kondisi para penari menjadi hal yang utama.

 

Jika akhirnya mereka berdiri di panggung Gandrung Sewu, penampilan itu bukan sekadar gerakan tari. Ia akan menjadi simbol keteguhan hati dan kecintaan terhadap budaya sebuah perjuangan yang bermula dari musibah, tetapi tak kehilangan harapan.(silvi) 

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN

">