Cuaca
Memuat cuaca...
Peristiwa

Longsor Pelaga Jadi Alarm Keras Pariwisata Badung! Dua Korban Hilang, Keamanan Wisata Alam Disorot

Longsor Pelaga Jadi Alarm Keras Pariwisata Badung! Dua Korban Hilang, Keamanan Wisata Alam Disorot
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | BADUNG, BALI – Bencana tanah longsor menerjang kawasan wisata Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut memicu longsoran tanah disertai aliran air deras hingga menerjang kawasan akomodasi wisata. Dua orang dilaporkan masih hilang dan kini menjadi fokus utama operasi pencarian tim gabungan.

Gempur rokok

 

Di tengah situasi darurat tersebut, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan anggota DPRD Kabupaten Badung Made Bima Nata turun langsung meninjau lokasi bencana, Senin (2/11/2026).

 

Kunjungan tersebut bukan sekadar melihat kondisi kerusakan, melainkan memastikan seluruh upaya pencarian dan penanganan darurat berjalan maksimal. Pemerintah daerah menegaskan, keselamatan manusia menjadi prioritas utama di tengah ancaman longsor susulan dan kondisi medan yang masih berisiko.

 

Peristiwa ini sekaligus menjadi peringatan serius bagi pengembangan pariwisata berbasis alam di wilayah Badung Utara. Di balik pesona alam yang menjadi daya tarik wisatawan, terdapat potensi bencana yang menuntut perhatian dan pengawasan ketat.

 

Dua Korban Belum Ditemukan, Tim Gabungan Berpacu dengan Waktu

 

Wagub Bali I Nyoman Giri Prasta menegaskan, seluruh unsur yang terlibat harus mengerahkan kemampuan terbaik dalam proses pencarian dua korban yang masih dinyatakan hilang.

 

Menurutnya, penanganan bencana tidak boleh hanya berorientasi pada pemulihan kawasan, tetapi harus mengedepankan aspek kemanusiaan.

 

“Ketika berbicara masalah bencana, yang pertama harus kita lihat adalah sisi kemanusiaan. Sesuai laporan manajemen yang ada di sini, terdapat dua warga yang belum ditemukan akibat tanah longsor ini. Karena itu, kami bersama seluruh tim memastikan proses pencarian dilakukan secara optimal,” tegas Giri Prasta.

 

Operasi pencarian melibatkan Basarnas, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Badung, Polri, Brimob, dan TNI.

 

Sejak pagi hari, tim gabungan melakukan penyisiran di sekitar titik longsor hingga kawasan hilir. Material tanah, derasnya aliran air, serta kondisi medan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam upaya menemukan korban.

 

Untuk mendukung keselamatan personel, dilakukan pula pengaturan debit air melalui penutupan bendung di bagian utara kawasan. Langkah tersebut diharapkan membantu proses pembersihan material longsor sekaligus memperlancar operasi pencarian.

 

Pencarian diprioritaskan pada area yang tertimbun material longsor. Apabila korban belum ditemukan, penyisiran akan diperluas mengikuti aliran air dari kawasan hilir menuju lokasi kejadian.

 

“Harapan kami, kedua korban dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, apa pun kondisinya, tim sudah bersiap dan akan terus melakukan upaya pencarian,” ujarnya.

 

Terkait durasi operasi, Giri Prasta menyebut pencarian dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku. Evaluasi akan dilakukan setelah tujuh hari dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, perkembangan pencarian, serta permintaan keluarga korban.

 

Ia juga mengapresiasi seluruh petugas dan masyarakat yang turut membantu penanganan bencana. Namun, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan mengingat potensi longsor susulan masih mengancam.

 

Bupati Badung: Keamanan Kawasan Wisata Harus Dievaluasi!

 

Bencana di Pelaga menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Badung untuk mengevaluasi aspek keselamatan kawasan wisata, terutama destinasi yang berada di wilayah dengan karakteristik alam dan tingkat kerawanan bencana.

 

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa pengembangan pariwisata tidak boleh mengabaikan faktor keselamatan manusia dan kondisi lingkungan.

 

Menurutnya, kawasan wisata berbasis alam harus memiliki perencanaan yang matang, termasuk dalam mengantisipasi cuaca ekstrem, potensi longsor, serta risiko bencana lainnya.

 

“Berangkat dari kejadian ini, tentu kami akan melakukan evaluasi terhadap kondisi di lapangan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali, meskipun dari sisi perizinan sudah ada pengaturan dan proses yang telah ditempuh. Namun demikian, evaluasi tetap perlu dilakukan agar tidak kembali menimbulkan korban, baik di lokasi ini maupun di tempat lainnya di Badung,” tegas Adi Arnawa.

 

Evaluasi tersebut mencakup kondisi lingkungan, keamanan kawasan, serta kesiapsiagaan pengelola akomodasi wisata dalam menghadapi ancaman bencana.

 

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa kelengkapan administrasi perizinan tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur keamanan sebuah destinasi wisata.

 

Aspek teknis, kondisi geografis, sistem mitigasi, serta kesiapan menghadapi keadaan darurat juga harus menjadi perhatian serius.

 

Pemerintah Perkuat Mitigasi, Pariwisata Jangan Abaikan Ancaman Bencana

 

Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung berkomitmen memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penanganan bencana sekaligus meningkatkan langkah mitigasi di kawasan rawan longsor.

 

Wagub Giri Prasta menekankan bahwa penanganan bencana membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, tim pencarian dan pertolongan, pengelola wisata, hingga masyarakat.

 

Selain memastikan operasi pencarian dua korban terus berjalan, pemerintah juga mendorong peningkatan pengawasan terhadap keamanan destinasi wisata berbasis alam.

 

Bencana di Eco Park Pelaga Glamping Retreat menjadi pengingat bahwa pembangunan pariwisata harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan keselamatan manusia.

 

Pesona alam memang menjadi daya tarik utama pariwisata Bali. Namun, ketika risiko bencana tidak diantisipasi secara serius, keindahan alam dapat berubah menjadi ancaman bagi keselamatan wisatawan, pekerja, dan masyarakat sekitar.

 

Kini, harapan tertuju pada tim gabungan yang masih berjibaku di lokasi longsor. Dua korban yang belum ditemukan menjadi prioritas utama, sementara evaluasi menyeluruh terhadap keamanan kawasan wisata di Badung Utara menjadi pekerjaan penting yang tidak boleh diabaikan.

 

Keselamatan manusia harus menjadi fondasi utama pembangunan pariwisata, bukan sekadar pelengkap di balik megahnya destinasi wisata.

(Tim) 

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN

">