Ngopi Sepuluh Ewu, Ketika Kemiren Menjelma Lautan Kopi dan Persaudaraan
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.
RADARBLAMBANGANNEWS.COM, | BANYUWANGI – Malam di Desa Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Sabtu (7/11/2026), terasa berbeda. Aroma kopi menyeruak dari halaman-halaman rumah warga, menyatu dengan udara malam dan keramahan masyarakat Using. Sepanjang jalan utama desa, ribuan orang berbaur dalam sebuah perayaan tradisi bertajuk **Festival Ngopi Sepuluh Ewu**.

Kemiren seolah menjelma lautan kopi. Di depan rumah-rumah warga berdiri pondok-pondok sederhana yang ditata menyerupai kedai tradisional. Meja dan kursi disiapkan, teko berisi kopi panas diletakkan, sementara cangkir-cangkir menanti untuk diisi. Tidak ada sekat antara tuan rumah dan tamu. Semua dipersilakan duduk, menikmati kopi, dan merayakan kebersamaan.




Festival ini bukan sekadar peristiwa minum kopi gratis. Ia merupakan panggung kebudayaan, tempat keramahan masyarakat Osing menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus bermakna: menyeduh kopi untuk siapa saja.
Sepuluh ribu cangkir kopi disiapkan untuk menyambut para pengunjung. Bahkan, masyarakat telah mempersiapkan segala kebutuhan sejak beberapa hari sebelumnya. Sejak pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, aktivitas memasak dan menyiapkan hidangan pelengkap kopi mulai berlangsung di rumah-rumah warga.




“Isun mulai nyiapaken kopai lan jajanan ikiae mulai wesuk, yo mung kanggo para acara ngopi bareng,” tutur Inayah, warga Kemiren. Dengan bahasa keseharian masyarakat setempat, ia menggambarkan kesibukan yang dilakukan demi menyambut tamu dalam perayaan kebersamaan tersebut.
Selain kopi tradisional, pengunjung juga disuguhi aneka makanan khas Banyuwangi. Rengginang, keripik gadung, ketan, pisang rebus, serabi, lanun, lopis, hingga klemben tersaji sebagai teman menikmati secangkir kopi. Hidangan itu bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari kekayaan kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.




Tokoh pemuda Desa Kemiren dari komunitas Pesinaun, Slamet Diharjo, menjadi salah satu bagian dari denyut kehidupan budaya yang terus tumbuh di tengah masyarakat setempat.
Festival Ngopi Sepuluh Ewu berangkat dari kebiasaan masyarakat Kemiren yang menjadikan kopi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Di desa ini, ngopi bukan hanya urusan lidah dan selera. Ada percakapan yang tumbuh di antara cangkir, ada persaudaraan yang terjalin di antara tegukan, dan ada keakraban yang dirawat melalui kebiasaan duduk bersama.




Filosofi yang menghidupi tradisi ini seolah terangkum dalam sebuah ungkapan: sekali seduh, kita semua bersaudara.
Asamat, salah seorang warga, mengungkapkan kebanggaannya terhadap keberadaan tradisi tersebut. Baginya, Festival Ngopi Sepuluh Ewu menjadi ruang bagi masyarakat luas untuk mengenal kebudayaan Using sekaligus mencintai warisan leluhur Kemiren.




“Saya bangga warga Using sekarang ini dikenal masyarakat dan budaya kami dicintai,” ungkapnya.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Kemiren menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu harus dipertahankan melalui seremoni besar. Terkadang, ia justru hidup melalui hal-hal sederhana: secangkir kopi, sepiring jajanan, dan kesediaan membuka pintu rumah bagi siapa saja.




Festival ini juga menjadi gambaran nyata semangat gotong royong. Warga bergerak bersama, menyiapkan hidangan, menata tempat, dan menyambut pengunjung dengan ketulusan. Tidak ada transaksi dalam secangkir kopi yang disuguhkan. Yang diberikan adalah keramahan, sementara yang dibawa pulang pengunjung adalah pengalaman tentang persaudaraan.
Partisipasi masyarakat Kemiren yang begitu besar memperlihatkan bahwa tradisi masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial. Kopi menjadi bahasa universal yang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda.
Pada akhirnya, Ngopi Sepuluh Ewu bukan hanya tentang sepuluh ribu cangkir kopi yang diseduh. Lebih dari itu, festival ini adalah kisah tentang sebuah desa yang merawat ingatan kolektifnya melalui kebersamaan.
Di Kemiren, malam itu, kopi tidak hanya menghangatkan tenggorokan. Ia menghangatkan hubungan antarmanusia. Sebab, dari sebuah cangkir sederhana, masyarakat sedang mengajarkan sesuatu yang kian berharga: bahwa persaudaraan tumbuh ketika manusia bersedia duduk bersama.***
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati